Pembinaan Bagi Pengemis


MEMBERIKAN uang kepada para pengemis yang ada di jalanan, bukan berarti investasi amalan pemberinya. Namun, apa yang dilakukan tersebut, justru merupakan investasi bagi orang yang diberi, untuk terus menjadi pengemis. Hal tersebut diungkapkan Wakil Walikota Semarang Mahfudz Ali SH MSi, dalam ’Road Show 10 Kota Menuju Indonesia Sadar Zakat 2009’, yang diselenggarakan Rumah Zakat Indonesia (RZI) Cabang Semarang, Sabtu (29/6) lalu.
Dia menunjuk contoh yang terjadi di kota Semarang. Meski Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang sudah menyediakan tempat singgah, sekaligus membina sejumlah pengemis, gelandangan, dan orang telantar (PGOT), tetap saja banyak di antara mereka yang memilih hidup di jalanan.

’’Padahal, kami tidak hanya menyekolahkan, tapi juga memberi makan, keterampilan, dan lainnya, sehingga nantinya mereka bisa hidup mandiri. Namun, yang sekarang terjadi, setiap terkena razia, para PGOT tetap kembali lagi ke jalanan. Karena di jalanan, mereka bisa memperoleh uang Rp 20.000 sampai Rp 40.000 per hari, tanpa harus bekerja keras,’’ kata Mahfudz.

Semestinya, kata Ketua Badan Amil Zakat (BAZ) Kota Semarang ini, masyarakat tak memandang menyalurkan sebagian harta untuk orang lain sebagai beramal. Lebih dari itu, usahakan para mustahik (mereka yang berhak menerima zakat) meningkat derajatnya menjadi muzakki (pemberi zakat).

Dalam kesempatan yang sama, CEO Rumah Zakat Indonesia (RZI), dr Pamungkas Kusuma Hendra, mengakui, kesadaran masyarakat untuk menunaikan zakat belakangan ini semakin meningkat. Kendati begitu, pihaknya terus berupaya membangun citra, aktivitas berzakat menjadi budaya atau gaya hidup.

Untuk mempermudah pengumpulan zakat, RZI meluncurkan jemput zakat dengan memanfaatkan fasilitas short messages service (SMS). Caranya, dengan mengetik nama, spasi, jumlah donasi, selanjutnya kirimkan ke 08156511165. Pada malam itu, hasil donasi yang terkumpul sebanyak Rp 206.685.000 dan wakaf tanah seluas 3.000 meter persegi.

Sulitnya Air Bersih di Kalimantan


Kemarau yang terjadi di Kalimantan Selatan selain membawa dampak kabut asap karena seringnya kebakaran lahan hutan, juga berpengaruh terhadap sulitnya mendapatkan air bersih.Kesulitan air bersih sangat dirasakan warga yang jauh dari layanan perusahaan air minum atau masyarakat pedesaan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Tanah Bumbu, Kotabaru,Tanah Laut, dan Balangan.

Di desa Mahang Baru Kecamatan Labuan Amas Selatan Kabupaten HST misalnya, mengaku kesulitan air bersih ini beberapa bulan terakhir, sering terjadinya kemarau yang cukup panjang saat ini.Alternatif sumber air bersih hanya melalui sumur bor bawah tanah. Namun biaya pembuatan satu unit sumur bor bernilai jutaan, sehingga tidak semua warga memilikinya.

Kesulitan air bersih ini berbuntut lagi pada sulitnya memenuhi keperluan untuk mandi, cuci, dan kakus (MCK) masyarakat setempat karena sungai semua yang bisa dimanfaatkan kering tanpa air lagi.

Keinginan memiliki MCK dengan sumber air bersih ini disampaikan tokoh agama setempat, KH Bahran Jamil kepada Gubernur Kalsel, Rudy Ariffin saat melakukan silaturahmi bersama warga, Selasa (29/9) di Mesjid Nurul Huda Desa Mahang Baru Kecamatan Labuan Amas Selatan, Kabupaten HST.

Dikatakan Bahran Jamil, warga cukup lama kesulitan air bersih ini yang menyebabkan sulitnya melakukan aktivitas MCK, termasuk mendapatkan air untuk keperluan masyarakat di mesjid seperti berwudhu dan sebagainya.Keinginan warga yang lain seperti perbaikan fasilitas jalan juga tidak lupa disampaikan Bahran Jamil kepada Gubernur yang hadir bersama sejumlah pejabat di lingkungan Pemprov Kalsel itu.

Menanggapi hal itu, Gubernur berjanji akan mengupayakan adanya program sanitasi lingkungan seperti bantuan pembuatan sumur bor dari Pemerintah Pusat melalui Dinas Pertambangan seperti yang ada dilakukan di beberapa lokasi.

Gubernur mengaku bisa merasakan kesulitan warga terhadap keperluan sarana MCK karena sulitnya air bersih didapat. Sehingga perlu program sanitasi yang bisa mengatasi masalah ini.Di Banjarmasin sebutnya, sudah ada program sanitasi berbasis masyarakat (sanimas) berupa pembuatan tempat MCK yang dikelola perusahaan daerah. Program inilah yang diharapkan bisa diterapkan di Kabuapten/Kota.

"Tolong nanati disampaikan permohonannya (proposal, red)," ujar Gubernur saat berdialog dengan warga.Setelah ada permohonan lanjutnya, baru dilakukan survey lokasi untuk mengetahui titik-titik mana yang bisa dilakukan pengeboran sehingga dapat memperoleh sumber air yang cukup.

Terkait permohonan lain seperti perbaikan jalan, hal itu akan dilakukan pembicaraan dengan Pemerintah Kabupaten setempat, karena menurut Gubernur, status jalan ada yang milik Pemkab, juga milik Pemprov.

"Jalan kan ada jalan nasional, jalan Provinsi, juga Kabupaten, jadi bagi-bagi tugaslah nanti," ujar Gubernur yang saat itu memberikan bantuan Rp20 juta untuk pembangunan Mesjid Nurul Huda. Selain warga di HST, di Banjarbaru, Tanbu, Kotabaru dan beberapa daerah lainnya mengalami kesulitan serupa. Warga makin sulit mendapatkan pasokan air bersih belakangan.

Tidak sedikit warga desa yang terpaksa berpindah-pindah mencari sumber air bersih yang jaraknya cukup jauh dari permukiman akibat berkurangnya persediaan sumber air di sumur-sumur di sekitar rumah mereka.Pemerintah diharapkan lebih jeli untuk mengambil langkah strategis dalam mengantisipasi kekurangan air bersih yang dikonsumsi oleh warga di musim kemarau saat ini.

(Sumber : Barito Post edisi Rabu, 30 September 2009)

Korban Sutet desak PLN Segera Ganti Rugi


Forum Konsolidasi Masyarakat Korban SUTET di Desa Jatiserang, Kec. Panyingkiran, Kab. Majalengka, berdemo di bawah menara yang ada di wilayahnya, Selasa . Mereka mendesak PT PLN segera merealisasikan tuntutan ganti rugi lahan mereka yang dilintasi saluran udara tegangan ekstratinggi (SUTET) tersebut.

Selain berdemo, mereka juga menyebutkan tengah menempuh jalur hukum yang prosesnya sudah mencapai permohonan peninjauan kembali (PK) atas putusan Mahkamah Agung yang sempat memenangkan PT PLN.

Menurut keterangan koordinator aksi Iwik Ardawi, jumlah warga Majalengka yang lahannya terkena jaringan SUTET sebanyak 1.830 kepala keluarga (KK) dengan luas areal yang terlintasi sebanyak 12.480.000 meter persegi.

Iwik mengatakan, pihaknya tengah berupaya menempuh jalur hukum yang prosesnya kini tengah ditangani Mahkamah Agung. "Kita sedang minta peninjauan kembali atas putusan kasasi yang memenangkan PLN," ungkapnya.

Sementara itu, Humas PT PLN Majalengka Hery Haruman, saat dimintai konfirmasi perihal tuntutan warga mengatakan, persoalan tersebut bukan menjadi kewenangan PT PLN Distribusi Jawa Barat, apalagi UPJ Sumedang ataupun APJ Majalengka. Akan tetapi, itu merupakan kewenangan Proyek Induk Pembangkit dan Jaringan (Pikitring) Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Sumber: www.pikiran-rakyat.com

Siaga serta Waspadai Hujan Asam



Dampak polusi udara akibat gas buang kendaraan yang sudah melampaui ambang batas tanpa disadari bisa menimbulkan terjadinya hujan asam. Seperti yang dikhawatirkan pakar lingkungan, Dr. Noorsalam Nganro. "Paling bahaya akibat polusi udara ketika Bandung diguyur hujan, sebab akan menimbulkan hujan asam. Air hujan kemudian mengalir masuk ke sungai dan berakhir di Waduk Saguling," kata dosen di Sekolah Ilmu & Teknologi Hayati ITB ini.

Sementara itu, di Waduk Cirata, sekitar empat kilometer dari Waduk Saguling, kini jadi tempat budi daya ikan dengan jaring terapung. Tidak menutup kemungkinan ikan yang hidup dalam air waduk tersebut tercemar oleh timbal melalui hujan asam.Pendapat Noorsalam ini tampaknya perlu diperhatikan serius. Sebab, berbagai penyakit seperti lupus dan autis yang dahulu tak pernah dikenal, namun kini bermunculan termasuk berbagai jenis penyakit baru lainnya. Salah satu penyebabnya dicurigai akibat gas buang (emisi) kendaraan bermotor yang mengandung timbal (Pb) dan mengotori udara.

Kecurigaan itu diperkuat kenyataan bahwa berdasarkan pemeriksaan medis, tidak sedikit darah manusia yang menyimpan kandungan timbal. Fakta ini dibenarkan mantan Ketua Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jabar, Taufan Suranto. "Bahkan, tak menutup kemungkinan terjadinya lost generation, jika terus dibiarkan. Terjadi penurunan kualitas kesehatan manusia akibat pencemaran udara tersebut," katanya menambahkan.Berkaitan dengan hal itu, kata Taufan, lembaganya telah melakukan penelitian terhadap anak-anak di sebuah sekolah dasar (SD) di kawasan salah satu pusat Kota Bandung. Hasil sangat mencengangkan terkait soal kandungan timbal dalam darah manusia (anak-anak).

Dampak pencemaran udara terhadap kesehatan, juga dapat disimak dalam laporan hasil pemeriksaan semester II tahun anggaran (TA) 2007 oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) perwakilan Kota Bandung, yang mengutip hasil penelitian Colville, R.N., Hutchison E.J. Mindel J.S, dan Warren R.F., dalam The Transport Sector as a Source of Air Pollution (2001).

Isinya menyebutkan Carbon Monoxide (CO) dampaknya mengganggu konsentrasi dan refleksi tubuh, menyebabkan kantuk, dan memperparah penyakit kardiovaskular (jantung). Sedangkan Sulfur Dioxide (SO2), akan meningkatkan penyakit paru-paru.Sementara itu, Natrium Oxide (NOx) dampaknya meningkatkan mortalitas, terutama pada bayi dan balita, serangan asma dan penyakit paru-paru kronis. Sedangkan menipisnya lapisan Ozon (O3) akibat pencemaran udara melalui emisi kendaraan bermotor dampak langsung bagi kesehatan manusia berupa meningkatkan iritasi mata, gangguan pernapasan, menurunkan daya tahan tubuh terhadap flu, dan pneumonia (paru-paru basah).

Jadi, menurut Shecter, M. Kim, M. Golan, L., dalam Valuting a Public: Direct and Indirect Valuation Approaches to the Measurement of the Benefits from Pollution Abatement (1986), dampak pencemaran udara terhadap kesehatan dan kesejahteraan manusia karakteristiknya, yaitu defisiensi oksigen dalam darah, iritasi mata, iritasi dan gangguan sistem pernapasan, kanker, gangguan sistem saraf, gangguan reproduksi dan genetika.

Sedangkan dampaknya pada tanaman dan hewan, yaitu terjadinya kerusakan daun, berkurangnya produktivitas, menurunnya laju fotosintesis, serta gangguan sistem pernapasan dan saraf pusat hewan.Polusi udara juga berdampak pada bahan bangunan, yaitu menyebabkan korosi logam dan pelapukan serta pengotoran. Sedangkan pada ekosistem (udara, air, dan tanah), menyebabkan deposisi asam, perubahan iklim lokal, penipisan lapisan ozon stratosfer. Gangguan estetikanya menimbulkan bau, jarak pandang rendah, dan warna bangunan cepat pudar.

Sementara itu, dampak pencemaran udara terhadap kesehatan dan kesejahteraan manusia, telah menimbulkan kerugian ekonomi sangat besar. Diperkirakan angka kerugian terkait biaya kesehatan akibat pencemaran udara mencapai Rp 12,7 miliar, seperti yang diungkapkan Suhandi D. pada penelitianya "Manfaat Ekonomi Pengurangan Pencemaran Udara di Kota Bandung 2006.

Kelestarian & Penyelamatan Ekosistem Bawah Laut


Kelestarian ekosistem bawah laut di kawasan Taman Nasional Bunaken (TNB) sedang terancam. Penyebabnya aktivitas penduduk Manado, kegiatan pariwisata bahari, binatang pemakan karang, dan pemanasan global. Bagaimana upaya untuk menyelamatkannya?

Kelestarian ekosistem bawah laut di kawasan Taman Nasional Bunaken (TNB) sedang terancam. Penyebabnya aktivitas penduduk Manado, kegiatan pariwisata bahari, binatang pemakan karang, dan pemanasan global. Bagaimana upaya untuk menyelamatkannya?
Jumat, 27 Maret 2009, di tepian Pantai Boulevard, Manado, Sulawesi Utara, berkumpul 120 anggota TNI AL dan 110 anggota Brimob. Ke-120 anggota TNI AL yang dipimpin Komandan Lantamal VIII Laksamana Pertama TNI Willem Rampangilei dan para anggota Brimob di bawah pimpinan Wakil Kepala Polisi Daerah Komisaris Besar Arnold Kondong itu tengah mengikuti program sapu pantai dan laut.

Program yang digagas oleh peneliti oseanografi dari Laboratorium Amakusa Marine Biological, Universitas Kyushu, Jepang, JR Pahlano Daud, itu diikuti pula 15 mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi, Manado, serta 20 mahasiswa dan dosen Sekolah Tinggi Ilmu Pariwisata Manado. Kegiatan sapu laut diikuti 65 penyelam dari Manado, Bali, Bandung, dan Jakarta. Semua yang terlibat dalam kegiatan sapu pantai dan laut itu datang secara sukarela.


Pahlano menjelaskan kegiatan sapu pantai dan laut merupakan salah satu upaya kecil menyelamatkan lingkungan di kawasan konservasi Taman Nasional Bunaken (TNB) Manado. Di perairan laut sekitar TNB telah teridentifikasi sekitar 400 jenis karang sebagai pembentuk utama ekosistem terumbu. Ekosistem terumbu karang tersebut menjadi habitat dari 1.000 jenis ikan. Beberapa di antaranya hiu, pari, giant travely, skipjack, marlin, dan mola-mola. Ada pula jenis ikan mamalia, seperti dugong, hiu paus, paus, dan lumba-lumba.

Sayangnya, kondisi TNB saat ini cukup memprihatinkan akibat tingginya aktivitas penduduk Manado yang menghasilkan limbah organik maupun anorganik. Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional tahun 2007, jumlah penduduk Manado sekitar 422.653 orang dengan tingkat kepadatan mencapai 2.686 orang per kilometer persegi. Kepadatan penduduk tersebut, kata Pahlano, menjadi ancaman serius terhadap kelestarian laut. Pasalnya Kota Manado memiliki posisi strategis menghadap ke TNB.

Untuk mengatasi permasalahan itu, Pahlano menyarankan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, khususnya Pemerintah Kota Manado, mereduksi sampah, terutama yang berasal dari daratan Manado agar tidak masuk ke TNB. Selain itu, perlu adanya sosialisasi kepada masyarakat mengenai perilaku-perilaku yang salah dan mengancam kelestarian sumber daya alam.

Permasalahan yang terjadi di TNB tidak hanya bersumber dari aktivitas masyarakat di darat, tapi juga aktivitas bahari. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan Pahlano, pada periode 2004-2008 jumlah wisatawan yang melakukan kegiatan snorkeling dan diving di TNB meningkat sekitar 11 ribu orang per tahun. Menurut Pahlano, kedua kegiatan itu dapat menyebabkan batang maupun cabang karang patah, terutama jika kegiatan itu dilakukan oleh mereka yang belum berpengalaman.

Persoalan tersebut dapat diatasi dengan cara meningkatkan kualitas pengarahan dari operator diving yang diikuti pengawasan dan penegakan hukum. Pemerintah setempat juga perlu melakukan diversifikasi dan perluasan dive spot yang selama ini jumlahnya baru 35 lokasi, terutama ke pesisir Teluk Manado.

Hewan Pemakan Karang
Kerusakan terumbu karang di sekitar TNB selain disebabkan aktivitas manusia juga akibat “ulah” hewan pemakan karang. Menurut Pahlano, hewan karang yang dikenal masyarakat setempat dengan nama pumparade itu merupakan jenis bintang laut yang berduri (Acanthaster planci). Sedangkan para peneliti umumnya menyebut hewan itu crown of thorns starfish (COTs).
Organisme COTs memang merupakan bagian dari ekosistem terumbu, namun apabila melimpah dalam jumlah besar dapat memusnahkan terumbu karang dalam waktu singkat. Sekarang ini, tutur Pahlano, kepadatan populasi COTs secara umum bergerak pada kisaran intermediate ke high density yang terjadi di Bunaken Timur, Barat, Siladen, dan beberapa lokasi di Manado Tua. Sedangkan di Nain rata-rata berada pada level low-intermediate.

Jika populasi COTs tidak segera diatasi, dalam waktu dekat akan terjadi active outbreak dimulai dari Pulau Bunaken bagian selatan yang kemudian tersebar ke lokasi lain,” kata Pahlano. Suatu daerah dikategorikan mengalami active outbreak apabila populasi COTs jumlahnya lebih dari 30 induk per hektare. Apabila ukuran COTs mencapai diameter 18 sentimeter, maka hewan itu akan menjadi sangat ganas dan memangsa dengan cepat karang dalam areal dengan luasan hingga ribuan hektare.

Pertambahan COTs diperparah dengan semakin sulitnya dijumpai predator COTs, seperti triton (bia tromper) di kawasan TNB. Bahkan, terdapat fenomena COTs yang biasanya menyukainya karang dari famili Acroporaridae maupun karang bercabang (branching) tidak lagi berlaku di TNB.

Karang yang telah dimakan COTs, kata Pahlano, akan meninggalkan tulang kapur putih di bagian rataan terumbu (reef flat). Hal itu menyebabkan karang menjadi rapuh dan sangat rentan terhadap arus, ombak, dan gempa. Akibatnya, ikan-ikan dan organisme lain yang biasanya berlimpah di daerah rataan karang berpindah ke bagian ujung terumbu (reef edge) dan dinding terumbu (reef wall). Selain itu, beberapa di antara spesies ikan kemungkinan tidak mampu beradaptasi alias mati.


Karang yang berada di bagian dinding terumbu yang tidak mampu menahan bagian rataan terumbu pada akhirnya dikhawatirkan longsor dan runtuh. Apabila hal itu terjadi, tentunya memerlukan waktu lama bagi karang untuk membentuk terumbu yang ada seperti sekarang. Beberapa terumbu seperti di Cela-cela dan Bunaken Utara telah memperlihatkan gejala tersebut. Pengangkatan COTs secara langsung dengan hati-hati dari terumbu akan lebih efektif dan efisien ketimbang memakai bahan-bahan kimia.


Permasalahan yang dihadapi terumbu karang di TNB juga erat kaitannya dengan isu pemanasan global (global warming). Menurut Pahlano, pemanasan global dapat menyebabkan terumbu karang berada dalam kondisi kritis. Hal itu dikarenakan terjadi pengasaman laut (ocean acidification) akibat peningkatan karbondioksida dan peningkatan suhu laut (ocean warming).

Indonesia mengalami ketertinggalan Perkembangan Bioteknologi


Pengembangan bioteknologi Indonesia masih kalah ketimbang negara lain. Hal itu terjadi akibat pemerintah terlambat menyadari potensi sumber daya alam Indonesia.

Indonesia Alami Ketertinggalan Pengembangan Bioteknologi menyatakan pengembangan bioteknologi Indonesia tertinggal dibandingkan negara lain. Karena, sejumlah ilmuwan telat menyakinkan pemerintah penyatuan sumber daya alam dengan ilmu pengetahuan.
Padahal, potensi pasar bioteknologi besar di dunia sekarang. Apalagi, Indonesia mempunyai sumber daya alam cukup.

Contohnya, Indonesia mempunyai fotosintesis berupa tanaman hijau tiga kali lebih besar ketimbang negara lain. Pasalnya, Indonesia hanya mempunyai dua musim dibandingkan negara lain empat musim. Dengan begitu selama ini Indonesia seharusnya dapat mengekspor sapi. Namun, sapi diimpor Indonesia dari negara lain. Jika dibandingkan negara lain dapat mengekspor sapi walaupun negara itu mengalami kekeringan.

Namun pemerintah, telah menyadari potensi bioteknologi. Sekarang ilmuwan kewalahan mengimbangi hal tersebut. Sementara itu sejumlah potensi dimiliki Indonesia dalam pengembangan bioteknologi. Hal itu dilakukan dari bioteknologi pertanian, farmasi dan kesehatan, industri (bioproses), lingkungan, dan kelautan.

Gempa Bumi mengakibatkan Tsunami


Dari sejarah kegempaan dan tsunami yang tercatat di BMG, hampir seluruh pantai di Indonesia rawan terhadap tsunami. Gempa bumi yang disertai tsunami terjadi di Aceh 26 Desember 2004 dengan parameter gempa bumi sebagai berikut:
Waktu kejadian : 07:58 : 50,26 Wib.
Episenter : 2, 90 LU - 95,6 BT
Kedalaman : 20 km.
Magnitudo [MB] : 6,8 SR
Magnitudo [MW] : 9,0 SR
Sesar : Sesar turun [ Normal Fault ]

Tsunami yang terjadi tidak hanya melanda Aceh dan Sumatera Utara , tetapi juga melanda negara-negara lain seperti Bangladesh, India, Malaysia, Maldives, Myanmar, Singapura, Srilanka dan Thailand.

Dari hasil pengukuran tinggi tsunami yang dilakukan para ahli dari BMG maupun dari negara lain, diperoleh tinggi tsunami di Aceh merupkan yang tertinggi di dunia sepanjang 100 tahun terakhir yaitu setinggi 34,5 meter [ di Lhok Nga ]. Area yang kena dampak tsunami mencapai kurang lebih 5 km dari pantai.

Bencana Tsunami yang terjadi di Aceh 26 Desember 2004 disebutkan sebagai bencana alam terbesar abad ini, karena besarnya kekuatan gempa buminya serta luasnya dampak yang diakibatkan oleh tsunami. Pengalaman pahit ini membuka mata semua orang akan bahaya tsunami yang sangat dashyat ini, sehingga banyak upaya yang dilakukan agar resiko tsunami dapat dikurangi.

Sampai saat ini belum ada ilmu dan teknologi yang dapat memprediksi gempa bumi, meskipun secara global pusat gempa bumi serta kekuatan maksimunnya telah diketahui. Dampak yang ditimbulkan oleh gempa bumi selain kerusakan infra-struktur yang dapat menimbulkan tsunami.Dampak/akibat dari kejadian gempa bumi dapat dibedakan menjadi 2 [dua ] bagian, yaitu:
1. Dampak Langsung
Dampak langsung seperti : adanya getaran , bangunan rusak/robah, liquifaction berubah seperti cairan ], gerakan tanah/terbelah/bergeser, tanah longsor dan tsunami.
2. Dampak Tidak Langsung
Dampak tidak langsung dari gempa bumi adalah: terjadinya gejola sosial, kelumpuhan ekonomi, wabah penyakit, gangguan ekonomi, kebakaran dan lain-lain.

Untuk itu, agar dampak akibat gempa bumi dan tsunami dapat diperkecil/dikurangi sangat perlu dilaksanakan mitigasi bencana. Mitigasi adalah merupakan proses untuk meminimalkan dampak negatif bencana alam yang diantisipasi akan terjadi di masa datang itu di suatu daerah tertentu, yang merupakan investasi jangka panjang bagi kesejahteraan semua lapisan masyarakat. Dalam mitigasi bencana gempa bumi; perlu dilaksanakan tindakan berikut, yaitu:

1. Hazard Assessment

Hazard assessment [ mengadakan analisis terhadap bahaya yang akan ditimbulkan] yaitu:

a. Land Slide [ tanah longsor ]
Land Slide/tanah longsor dengan volume tanah yang jatuh/turun cukup besar dan terjadi di dasar laut, dapat mengakibatkan timbulnya tsunami. Biasanya tsunami yang terjadi tidak terlalu besar, jika dibandingkan dengan tsunami akibat gempa..

b. Gunung berapi aktif yang berada di tengah laut, ketika meletus akan dapat menimbulkan tsunami, Tsunami yang terjadi bisa kecil, bisa juga besar, tergantung dari besar kecilnya letusan gunung api tersebut. Banyak gunung api yang berada di tengah laut di seluruh dunia. Untuk di Indonesia, paling terkenal adalah letusan gunung Krakatau, yang terletak di tengah laut sekitar Selat Sunda , yang terjadi 1883. Letusannya sangat dashyat, sehingga menimbulkan tsunami yang sangat besar dan korban yang yang banyak, baik jiwa maupun harta benda . Dampak dari bencana ini juga dirasakan kedashyatanya di negara lain.
c. Tsunami
Pada waktu gempa Aceh terdapat 3 kali pergeseran lempeng di lautan Hindia. Gempa ini menyebabkan tsunami dengan kecepatan 500 km /perjam. Tsunami dirasakan setengah jam setelah gempa. Tinggi gelombang diperkirakan 30 m . Banyak korban akibat tsunami ini, rumah hancur, manusia serta hewan piaraan tersapu gelombang tsunami dengan gelombang ketinggian sekitar 30 meter. Dapat dibayangkan dashayatnya tsunami itu jika tinggi gelombang setinggi bangunan berlantai 8.. Kerusakan akibat soil liquifaction ada terdapat di depan mesjid Baiturahman. Bangunan tiga lantai pada turun, kareba pondasinya turun sebesar 3 meter. Lantai dua menjadi lantai satu.

d. Bangunan yang rusak
Bangunan yang rusak akibat gempa ada beberapa kreteria sebagai berikut:
1.Bangunan yang rata dengan tanah.
2.Bangunan yang kolomnya patah, pelat lantai bersatu.
3.Bangunan kolom dan balok retak tetapi bangunan masih berdiri.

e. Kerusakan akibat gempa Nias
Belajar gempa Nias 28 Maret 2004 yang besarnya 8,7 skala richter yang pusat gempanya berada di lautan Hindia di antara pulau Nias dan pulau Simelu maka kota-kota yang terkena dampak kerusakan dari ; berat sampai ringan. Ukuran berat dan ringan tergantung pada jarak epicentrum, kedalaman gempa dan tinggi bangunan. Untuk kota Gunungsitoli memang sangat dekat dengan epicentrum.
Ciri khas kerusakan pada bangunan di Gunungsitoli dan sekitanya adalah:
1. Bangunan rata dengan tanah.
2. Untuk bangunan tinggi di tengah kota banyak yang rusak hampir rata dengan tanah yang kolomnya patah sehingga pelat lantai saling bertindih atau disebut juga kerusakan tipe sandwich. Kerusakan tipe sandwich diakibatkan oleh karena kolom bangunan tidak sanggup lagi memikul gempa karena kelebihan berat yang dipikul atau kolomnya terlalu kecil. Untuk mencegah agar tidak terjadi kerusakan seperti ini ukuran kolom harus lebih besar ukuran dari baloknya. Bukan sebaliknya.
3. Material bangunan yang dipakai juga rendah, demikian juga tulangan banyak yang terlalu kecil. Jarak kolom yang terlalu jarang.
4. Kerusakan akibat ada soil liquifaction, yakni pada tanah di bawah pondasi ada kandungan pasir jenuh air sehingga banyak bangunan yang terjerambab dari empat lantai menjadi satu. Ditandai juga dengan miringnya bangunan dan ada juga lantainya yang menggelembung.
5. Kerusakan pada jembatan yang pondasinya tergulingdan tergeser dan ada juga abutmentnya yang menjadi berjauhan sehingga gradernya jatuh.

2. Warning System [Membuat Peringatan Dini Bencana ]

Untuk melaksanakan mitigasi bencana , salah satu tindakan adalah membuat suatu sistem peringatan dini. Seperti kita ketahui bahwa gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Aceh 26 Desember 2004 yang lalu telah menelan banyak korban dan kerusakan di berbagai negara, dan Indonesia mengalami dampak yang paling parah. Ratusan orang meninggal,sebagian infra-struktur [bangunan ] di Aceh terutama yang berada di pinggir pantai rata dengan tanah dan ekonomi di Aceh mengalami kelumpuhan. Korban dan kerusakan itu terjadi terutama dampak/akibat dari terjangan tsunami.
Untuk menerbitkan peringatan diri tsunami, harus memenuhi beberapa kreteria , serta diproses melalui beberapa tahap seperti:
1. Menerima data dari seismograph dan langsung diproses secara otomatis dalam kurang waktu dari 3 menit.
2. Menerima data strongmation dari stasiun accelerograph yang terdekat dalam waktu kurang dari 1 menit.
3. Menerima data pressure gauge dari DART buoy terdekat dalam waktu kurang lebih 1 menit.
4. Operator melakukan verifikasi dalam waktu 2 menit, setelah proses otomatis selesai dengan mencocokan data dari gauge dan DART buoy.
5. Operator melalukan verifikasi dengan koordinator atau pihak berwenang untuk menerbitkan jenis peringatan.
6. Peringatan disebarluaskan ke daerah yang terancam tsunami dan jaringan komunikasi internasional.

3. Land Use [ Penggunaan Lahan ]

Perlu diketahui, hutan mangrove atau hutan bakau adalah hutan yang tumbuh di mara sungai, daerah pasang surut atau tepi laut. Tumbuhan mangrove bersifat unik karena merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di laut. Umumnya mangrove mempunyai sistem perakaran yang menonjol yang disebut akat nafas. Sistem perakaran ini merupakan suatu cara adaptasi terhadap keadaan tanah yang miskin oksigen.
Hutan bakau berperan penting dalam melindungi kawasan pantai dan muara sungai sebagai pelindung alami yang paling kuat dan praktis untuk menahan erosi pantai, menyediakan berbagi hasil kehutanan seperti kayu bakar, alkohol, gula, bahan penyamak kulit, bahan atap, bahan perahu, mempunyai potensi wisata serta tempat hidup dan berkembang biak seperti udang , burung, monyet, dan satwa liar lainnya.

4. Building Codes [ Bangunan tahan gempa/tsunami]

Filosophi perencanaan tahan gempa untuk bangunan yang diadopsi hampir seluruh negara di dunia mengikuti ketentuan berikut ini:
- Pada gempa kecil bangunan tidak boleh mengalami kerusakan.
- Pada gempa menengah komponen struktural tidak boleh rusak, namun komponen non-struktural diizinkan mengalami kerusakan..
- Pada gempa kuat komponen struktural boleh mengalami kerusakan,namun bangunan tidak boleh mengalami keruntuhan.
Seiring dengan perkembangan teknologi dalam perencanan bangunan tahan gempa, telah dikembangkan suatu pendekatan desain alternatif untuk mengurangi resiko kerusakan bangunan akibat gempa , dan mampu mempertahankan integritas komponen struktural dan non-struktural terhadap gempa kuat. Pendekatan desain ini bukan dengan cara memperkuat struktur bangunan, tetapi adalah dengan mereduksi gaya gempa yang bekerja pada bangunan.

Salah satu konsep pendekatan perencanaan yang telah digunakan banyak negara adalah dengan menggunakan isolasi seismic atau sering juga disebut dengan nama base isolator. Base isolator dapat diterapkan baik untuk bangunan baru maupun bangunan yang telah berdiri.

5. Educational Program [ Program Pendidikan]

Bagi korban gempa bumi/tsunami khususnya anak-anak perlu diberi pendidikan untuk mengurangi tekanan atau perasaan takut/trauma yang dialami mereka sewaktu terjadinya gempa bumi/tsunami. Program dimaksud dapat berupa :
1. Mengajak mereka bermain.
2. Mengajarkan berbagai keterampilan.
3. Mengajak berolahraga.
4. Menjadi bapak asuh.
5. Memberikan buku-buku dan majalah yang berisikan kepatriotan.

Indonesia pada umumnya dan wilayah Sumatera Utara pada khususnya merupakan daerah yang rawan terjadi bencana seperti; gempa bumi, banjir, longsor, kebakaran hutan, dan lain-lain. Dalam rangka mengurangi dampak bencana tersebut sangat perlu dilaksanakan mitigasi terhadap bencana-becana dimaksud.

Burung Cendrawasih


Burung ini terkenal karena keindahan bulu dan warnanya. Burung ini terdapat di daerah Irian / Papua. Kira-kira burung apa ya ? Ya… benar… nama burung ini Cendrawasih. Burung cendrawasih merupakan anggota famili Paradisaeidae dari ordo Passeriformes. Mereka ditemukan di Indonesia timur, pulau-pulau selat Torres, Papua Nugini, dan Australia timur. Burung anggota keluarga ini dikenal karena bulu burung jantan pada banyak jenisnya, terutama bulu yang sangat memanjang dan rumit yang tumbuh dari paruh, sayap atau kepalanya. Ukuran burung cendrawasih mulai dari Cendrawasih Raja pada 50 gram dan 15 cm hingga Cendrawasih Paruh-sabit Hitam pada 110 cm dan Cendrawasih Manukod Jambul-bergulung pada 430 gram.

Burung cendrawasih yang paling terkenal adalah anggota genus Paradisaea, termasuk spesies tipenya, cendrawasih kuning besar, Paradisaea apoda. Jenis ini dideskripsikan dari spesimen yang dibawa ke Eropa dari ekpedisi dagang. Spesimen ini disiapkan oleh pedagang pribumi dengan membuang sayap dan kakinya agar dapat dijadikan hiasan. Hal ini tidak diketahui oleh para penjelajah dan menimbulkan kepercayaan bahwa burung ini tidak pernah mendarat namun tetap berada di udara karena bulu-bulunya. Inilah asal mula nama bird of paradise ('burung surga' oleh orang Inggris) dan nama jenis apoda - yang berarti 'tak berkaki'.

Banyak jenis mempunyai ritual kawin yang rumit, dengan sistem kawin jenis-jenis Paradisaea adalah burung-burung jantan berkumpul untuk bersaing memperlihatkan keelokannya pada burung betina agar dapat kawin. Sementara jenis lain seperti jenis-jenis Cicinnurus dan Parotia memiliki tari perkawinan yang beraturan. Burung jantan pada jenis yang dimorfik seksual bersifat poligami. Banyak burung hibrida yang dideskripsikan sebagai jenis baru, dan beberapa spesies diragukan kevalidannya. Jumlah telurnya agak kurang pasti. Pada jenis besar, mungkin hampir selalu satu telur. Jenis kecil dapat menghasilkan sebanyak 2-3 telur (Mackay 1990).


Hubungan dengan Manusia

Masyarakat di Papua sering memakai bulu cendrawasih dalam pakaian dan adat mereka, dan beberapa abad yang lalu bulu itu penting untuk dibuat topi wanita di Eropa. Perburuan untuk mendapat bulu dan perusakan habitat menyebabkan penurunan jumlah burung pada beberapa jenis ke tingkat terancm; perusakan habitat karena penebangan hutan sekarang merupakan ancaman utama.

Perburuan burung cendrawasih untuk diambil bulunya untuk perdagangan topi marak di akhir abad 19 dan awal abad 20 (Cribb 1997), namun sekarang burung-burung itu dilindungi dan perburuan hanya dibolehkan untuk kebutuhan perayaan dari suku setempat. Dalam hal Cendrawasih Panji, disarankan mengambil dari rumah sarang burung Namdur. Tatkala Raja Mahendra dari Nepal naik tahta pada tahun 1955, ternyata bulu burung cendrawasih pada mahkota kerajaan Nepal perlu diganti. Karena larangan perburuan, penggantian akhirnya diperbolehkan dari kiriman yang disita oleh hukum Amerika Serikat.

Burung cendrawasih dewasa digambarkan pada bendera Papua Nugini. David Attenborough telah menyatakan beberapa burung cendrawasih sebagai jenis hewan favoritnya, mungkin dia menyukai Cendrawasih Botak.


Perkembangan Iptek Lingkungan


Wilayah Indonesia yang secara geografis berada dikawasan tropis dengan lingkungan alam dan sekitarnya cukup bersahabat, kondisi perkembangan iptek awalnya tergantung dari perkembangan peradaban yang awalnyaa dijajah oleh bangsa lain yang umumnya berasal dari kawasan sub tropis, (Belanda, Inggris, Jepang dan Sekutu).

Kondisi awal yang umumnya kurang mendukung, masih terciptanya budaya dengan kemudahan dalam kehidupan dengan kejadian rendah terhadap bencana alam ini, telah memberikan perhatian dan kepedulian tentang penciptaan pengetahuan dan teknologi berjalan sesuai kondisi yang berkembang. Sehingga perkembangan iptek dari awal masih sangat tergantung pada perkembangan di tingkat global. Dari perjalanan Bangsa Indonesia sejak jaman kemerdekaan hingga kini, pengelolaan dan pembinaan iptek terkesan ketergantungan pada iptek manca negara, hingga landasan dasar iptek yang cocok dan sesuai dengan kondisi lingkungan di Indonesia kurang mendapat perhatian dan dukungan.

Kondisi ini umumnya bersamaan dengan ekspansi dan budaya asing telah merebak dan berkembang pula di bumi pertiwi di Indonesia. Adanya upaya pemanfaatan iptek tanpa dilandasi dasar pengetahuan kuat yang berlangsung menjelang akhir abad 20, dengan catatan adopsi iptek dari manca negara, telah memberikan kondisi yang kurang berkembang sebagaimana mestinya. Landasan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai dengan perkembangan kondisi lingkungan mungkin akan dapat dibangun dengan memperhatikan situasi dan kondisi yang terjadi di bumi pertiwi yang berada di kawasan tropis.

Pembangunan landasan dasar ini mutlak diperlukan saat ini manakala pembangunan dasar yang kuat tersebut dilanjutkan dengan upaya untuk mengembangkan mekanisme yang sesuai dan cocok serta penyesuaian/adaptasi dengan iptek manca negara yang kian merebak.
Karena para ahli dan pemikir dengan kualifikasi pendidikan pasca sarjana dari manca negara, penyesuaian diri dengan pengarahan dan pembinaan yang berjenjang dan berkelanjutan merupakan bagian dari pembangunan dasar iptek yang mungkin akan dapat menahan ketergantungan iptek dari manca negara.

Kemudian pembenahan diri kedalam kaitan dengan sistem pemantauan, pengarsipan dan sosialisasi yang berjenjang dan berkelanjutan akan dapat memberi kontribusi tercapainya landasan iptek di Indonesia. Perkembangan yang telah terjadi dengan masuknya iptek dan budaya manca negara seyogyanya ditelusuri dan dikaji untuk diiringi dengan upaya penyelarasan dan sosialisasi meluas. Dengan adanya kondisi iptek yang tidak tentu arah dengan kondisi lingkungan yang telah berubah telah memberi kondisi yang kini berkembang dengan catatan adanya kecenderungan : Telah ada perlindungan atas produk asli Indonesia (patent produk tertentu), Bencana makin sering namun terlambat dan minim teknologi penanggulangan, Produk pangan (beras) mulai tergantung dari manca negara selebihnya masih tergantung impor, dan lainnya yang terkait.

Dari kondisi iptek saat ini yang umumnya cenderung tergantung pada perkembangan kondisi tingkat internasional, diikuti pula dengan masuknya budaya asing, telah menghantar pada kenyataan budaya bangsa makin kehilangan keasliannya. Selanjutnya dari wacana dan perkembangan budaya iptek dan budaya bangsa Indonesia yang makin pudar keasliannya, maka upaya strategis dan sinergis untuk menyelaraskan kondisi ini seyogyanya perlu penyadaran diri.

Pembangunan landasan masyarakat akan iptek (capacity building development) yang berkelanjutan mungkin merupakan cara yang dapat dilakukan dalam rangka pengentasan kondisi yang makin menjerumuskan pada situasi dan kondisi yang kurang diharapkan oleh kita bangsa Indonesia. Kenyataannya, globalisasi IPTEK dan budaya telah berkembang dan berlangsung. Apakah kita akan berdiam diri atau berupaya agar tidak larut/tenggelam ???.
Kesemuanya ini ditengahkan dalam rangka penyadaran diri dalam pembangunan landasan dari IPTEK (base line) yang spesifik dan sesuai dengan budaya bangsa Indonesia dengan adat ke Timurannya.